
Di tengah modernisasi yang semakin pesat, Desa Wisata Bunder, yang terletak di kawasan Patuk, Gunungkidul, tetap memelihara denyut tradisi yang sarat makna. Salah satu warisan budaya yang masih lestari dan menjadi daya tarik utama adalah Gejog Lesung — pertunjukan musik tradisional yang unik, meriah, dan penuh nilai kearifan lokal.
Gejog Lesung adalah seni tabuh yang dimainkan dengan menggunakan lesung, alat tradisional dari kayu yang dulunya dipakai untuk menumbuk padi. Kini, lesung tidak hanya menjadi simbol ketahanan pangan, tetapi juga berubah menjadi alat musik ritmis yang menghasilkan irama dinamis nan menggugah. Dipukul dengan alu oleh para ibu-ibu dan warga desa, suara yang dihasilkan menciptakan komposisi musik khas yang menggema dengan semangat kebersamaan.
Suasana akan semakin hidup ketika alunan Gejog Lesung dikolaborasikan dengan nyanyian tradisional, tarian rakyat, dan kostum adat, menambah kekayaan visual dan emosi dalam setiap penampilan. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan, tapi juga menjadi medium untuk menceritakan kisah kehidupan, panen, dan rasa syukur masyarakat desa.
Wisatawan yang datang ke Desa Wisata Bunder akan mendapatkan kesempatan melihat langsung pertunjukan Gejog Lesung, berinteraksi dengan para pemain, bahkan ikut menabuh lesung dan merasakan langsung energi dari budaya lokal yang hidup dan bersahaja
Rasulan
Wisata Budaya Rasulan – Tradisi Penuh Makna dari Desa Wisata Bunder, Gunungkidul
Di balik kesejukan alam dan hijaunya hutan Desa Bunder, Patuk, Gunungkidul, tersimpan kekayaan budaya yang masih lestari hingga kini: Tradisi Rasulan. Lebih dari sekadar ritual, Rasulan adalah cerminan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen dan berkah kehidupan. Sebagai bagian dari kalender budaya desa, Rasulan menjadi momen sakral sekaligus meriah yang menarik untuk dinikmati wisatawan.
Suasana Rasulan di Desa Bunder begitu hidup dan kental dengan nilai-nilai tradisional. Warga berdandan dengan busana adat, para ibu menyiapkan sesaji dan makanan khas, sementara suara gamelan mengalun mengiringi setiap prosesi. Desa pun dihiasi dengan janur, umbul-umbul, dan ornamen khas yang menambah suasana sakral sekaligus meriah.
Sebagai wisatawan, Anda akan diajak menyelami keunikan budaya lokal melalui berbagai kegiatan menarik dalam perayaan Rasulan, seperti:
Kirab Budaya: Arak-arakan warga yang membawa hasil bumi, gunungan, dan perlengkapan adat, menyusuri jalan desa sambil diiringi kesenian tradisional. Ini adalah simbol syukur sekaligus doa bersama untuk kesejahteraan.
Pagelaran Seni Tradisional: Wayang kulit, kethoprak, reog, hingga jathilan biasanya tampil dalam perayaan Rasulan. Suatu kesempatan langka untuk menyaksikan seni lokal langsung dari para pelakunya.
Sajian Kuliner Tradisional: Anda juga bisa mencicipi makanan khas desa yang disajikan dalam kenduri bersama. Rasakan kehangatan warga dan cita rasa otentik khas pedesaan.
Interaksi Budaya: Wisatawan dapat mengikuti proses pembuatan sesaji, belajar menari tradisional, hingga berdialog langsung dengan tokoh adat desa—sebuah pengalaman budaya yang kaya dan bermakna.
Desa Wisata Bunder juga menyediakan fasilitas pendukung seperti pendopo, toilet umum, serta area terbuka yang nyaman untuk mendukung wisata budaya secara menyeluruh

Kesenian Badui merupakan salah satu warisan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat Padukuhan Plosokerep di Desa Wisata Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian ini telah menjadi bagian integral dari identitas budaya lokal dan terus dijaga keberlangsungannya oleh generasi muda setempat.
🎭 Sejarah dan Perkembangan Kesenian Badui
Kesenian Badui di Plosokerep dikenal sebagai “Tunas Budaya Plosokerep” dan telah aktif dalam berbagai kegiatan budaya di wilayah tersebut. Paguyuban ini secara resmi terdaftar dan aktif dalam kegiatan kebudayaan di Kabupaten Gunungkidul.
Dalam berbagai acara adat dan kegiatan budaya, seperti penyambutan tamu desa dan peringatan hari besar, kesenian Badui selalu hadir sebagai bentuk hiburan dan pelestarian budaya. Misalnya, dalam Lomba Desa Tingkat Kabupaten Tahun 2025, kesenian Badui turut memeriahkan acara penyambutan tim juri di Balai Padukuhan Plosokerep.
🧑🎓 Peran Generasi Muda dalam Pelestarian
Generasi muda di Plosokerep, khususnya anggota Karang Taruna, memainkan peran penting dalam melestarikan kesenian Badui. Mereka aktif berlatih dan menampilkan kesenian ini dalam berbagai kesempatan, menunjukkan semangat dan antusiasme dalam menjaga warisan budaya leluhur.
🌿 Nilai Budaya dan Edukasi
Kesenian Badui tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi yang menyampaikan nilai-nilai budaya dan sosial kepada masyarakat. Melalui pertunjukan ini, masyarakat dapat belajar tentang sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh leluhur mereka.
📺 Dokumentasi dan Publikasi
Kegiatan kesenian Badui di Plosokerep telah didokumentasikan dalam berbagai media, termasuk video yang menampilkan pertunjukan dalam rangka Bersih Dusun. Dokumentasi ini membantu memperkenalkan kesenian Badui kepada masyarakat luas dan menjadi sarana promosi budaya lokal.
Dengan demikian, kesenian Badui di Padukuhan Plosokerep merupakan contoh nyata dari upaya pelestarian budaya oleh masyarakat lokal, yang melibatkan berbagai generasi dan memanfaatkan berbagai media untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.